Penulis: Redaksi - Editor: Redaksi
Apabila terdapat acara-acara penting, seperti ritual adat, maka mumi tersebut akan didudukkan menghadap ke banyak orang, guna mengenang jasanya.
4. Tiwah
Tradisi Pemakaman Tiwah dilakukan oleh Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Uniknya, tradisi ini dilakukan setelah jenazah dikubur selama beberapa tahun, sehingga hanya menyisakan tulang-belulang.
Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Ngaju, Tiwah dilakukan untuk mengantarkan roh nenek moyang ke tempat asal ruh atau Lewu Tatau, bersama dengan Ranying, sosok dewa tertinggi dalam kepercayaan masyarakat Dayak.
Baca Juga : Pelaku Penusukan Juru Parkir di Mal Ramayana Robinson Rajabasa Ditangkap Sembunyi di Lampung Timur
Umumnya, Tradisi Pemakaman Dayak Ngaju digelar selama 3 hari sampai satu bulan penuh. Prosesi dimulai dengan membangun Sandung Rahung untuk menyimpan tulang.
Kemudian menyiapkan kerbau yang diikat di dekat sandung rahung. Di akhir ritual, arwah akan melakukan perjalanan menuju Lewu Tatau, sambil diiringi prosesi pengurbanan kerbau dengan cara ditombak.
Terakhir, Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah Danau Toba ternyata juga memiliki Tradisi Pemakaman yang tak kalah unik. Tradisi tersebut bernama Mangokal Holi, sebuah kepercayaan turun-temurun masyarakat Pulau Samosir, dengan pemindahan tulang tengkorak leluhur sebagai bentuk penghormatan.
Tradisi Mangokal Holi dilakukan dengan membongkar makam keluarga yang telah lama meninggal, dan menempatkan tulang-tulang di sebuah tugu.
Tradisi Mangokal Holi dipercaya masyarakat Samosir bisa mendekatkan arwah leluhur ke Sang Pencipta. Tradisi Pemakaman Mangokal Holi juga bertujuan menyatukan jasad seluruh anggota keluarga di dalam sebuah tugu yang indah. Makin indah, mahal, dan tinggi tugu yang dibuat, maka makin tinggi status marga pemilik makam tersebut. (Shi)

